Social Icons

Rabu, 25 Februari 2015

Contoh Teks PIDATO "SANTAI MENGHADAPI UN"



PIDATO

NAMA : Muhammad Ridwan Lugastyandi
KELAS : XII A 3

.Assalamu’alaikum Wr.Wb
Yang terhormat kepada ibu nani guru bahasa indonesia dan tidak lupa pula kepada rekan rekan seperjuangan yang saya cintai dan saya banggakan . Puji dan syukur kita panjatkan kepada tuhan yang maha esa atas nikmat dan inayahnya kita dapet berkumpul dalam kondisi sehat wal’afiat di tempat yang sangat indah ini, shalawat serta salam kita curahkan kepada nabi kita nabi muhammad SAW kepara sahabatnya, keluarganya, dan telah sampailah kepada kita selaku umatnya. Di kesempatan yang indah ini ijinkan saya untuk berpidato yang berjudul “ SANTAILAH MENGHADAPI UJIAN NASIOANAL” mungkin dalam judul ini ada yang bertanggapan negatif baik positif namun setelah saya membacakan sebuah pidato yang saya sampaikan  semoga ada hikmah yang teman-teman dapatkan.

 Tidak terasa pada tanggal 13-15 APRIL 2015 seluruh sekolah se-indonesia tingkat menengah atas akan melaksa Ujian Nasional (UN). Pemerintah merubah sistem UN dari yang menyeramkan bagi siswa kini tidak menyeramkan lagi, kalau menurut saya sama saja cuman bedanya tahun kemarin itu UN 70% oleh Pemerintah 30%oleh sekolah jadi lulus tidaknya ada di tangan pemerintah. pada 2015 ini pemerinta merubahnya menjadi 50% pemerintah 50%sekolah jadi lulus atau tidaknya ada di tangan sekolah tetapi nilai UN masih di pegang oleh pemerintah dengan peripikasi A,B,C,dan D Syukur-syukur kita mendapatkan PREDIKAT A dan B jadi kita bisa melanjutkan kembali ke perguruan tinggi namun kalau kita mendapetkan C harapan kita untuk melanjutkan keperguruan tinggi sangatlah sempit dan jiga kita mendapetkan Predikat D kita lulus dalam syarat mengulangi UN tahun depan. Mungkin tahun ini kita harus santai menghadapi UN 2015 ini, dengan tips SANTAI yang akan saya sampaikan: 

- SANTAI BELAJAR ARTINYA Belajar jauh – jauh hari, Ikuti program sekolah seperti BIMBEL dan selalu bertanya kepada guru bersangkutan  sehingga kita akan lebih santai menghadapi UN dan terasa UN itu tidak tegang karna kita sudah SANTAI mempersiapkannya.  

-         SANTAI MENJAGA KESEHATAN ARTINYA Makan –makanan yang bergiji dan berolahraga secara teratur hindari main berlebihan dan hindari tidur terlalu larut malem sehingga kita akan lebih SANTAI dan tidak takut sakit saat menghadapi UN.

-         SANTAI BERDOA ARTINYA merubah aktifitas yang males menjadi rajin beribadah kepada allah SWT. Berdoa, shalat wajib maupun sunah,berpuasa sunah dan setelah melakukan ibadah di imbangi dengan berusaha sihingga kita akan SANTAI baik hati maupun batin untuk menerima rahmat,dan kesegaran pikiran agar kita mudah mengerjakannya.

-         SANTAI MENGHADAPI SOAL UN ARTINYA baca dan cermati soal UN dengan SANTAI hindari ketegangan percaya dengan kemampuan diri sehingga kita akan lebih SANTAI dalem mengerjakan soal-soal yang di hadapi.

Semuanya pasti membutuhkan proses, se-instan-instannya MIE INSANT pasti harus di buka, di pasak, dan di bumbui baru terasa nikmat. SANTAI UN dan sukses yang di raih.  mungkin itu pidato yang bisa saya sampaikan semoga kita bisa menghadapi UN dengan SANTAI dan LULUS 100% DENGAN PREDIKAT A,B Amin ya rabbil’alamin, apabila ada salah kata saya minta maaf karna kesempurnaan hanya milik allah dan kekurangan hanya milik saya pribadi. Wassalamu’alaikum wr wb

Minggu, 02 November 2014

Eling-eling dulur kabeh

Eling-eling dulur kabeh ibadah ulah sapoe
Beurang peuting ulah weleh bisina kaburu paeh
Sabab urang bakal mati nyawa di pundut ku gusti
Najan raja nyakrawati teu bisa nyingkiran pati
Karasana keur sakarat nyerina kaliwat-liwat
Kana ibadah kaliwat tara ngalakukeun sholat
Kaduhung liwat kalangkung tara nyembah ka yang agung
Sakarat nyeri kalangkung jasad na teu meunang ampun.

Jumat, 10 Oktober 2014

mother is everything

PENSIL : “Maafkan aku Penghapus…”
PENGHAPUS : “Maafkan aku??? Untuk
apa Pensil? Kamu tidak melakukan
kesalahan apa pun kepadaku.”
PENSIL : “Aku minta maaf karena aku
telah membuatmu terluka. Setiap kali
aku melakukan kesalahan, kamu selalu berada
di sana untuk menghapusnya. Namun setiap kali kamu membuat kesalahanku
lenyap, kamu kehilangan
sebagian dari dirimu. Kamu akan
menjadi semakin kecil dan kecil setiap saat ”
PENGHAPUS : “Hal itu memang benar…
Namun aku sama sekali tidak merasa
keberatan. Kau lihat, aku memang
tercipta untuk melakukan hal itu. Diriku tercipta untuk selalu membantu
mengoreksimu setiap kamu melakukan kesalahan.
Walaupun suatu hari, aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan
mengganti diriku dengan yang baru.
Aku sungguh bahagia
dengan peranku. Jadi tolonglah, kau
tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih.”
Penghapus → Orang Tua kita
Si Pensil → diri kita sendiri
Orang Tua akan selalu ada untuk anak anaknya, guna memperbaiki kesalahan
anak anaknya.
Namun, seiring berjalannya waktu,
Orang Tua akan terluka dan akan
menjadi semakin kecil (baca:
bertambah tua, sakit sakitan
dan akhirnya meninggal).
Walaupun anak anak mereka pada
akhirnya akan menemukan seseorang yang baru (Suami atau Istri), namun
Papa dan Mama akan selalu tetap merasa bahagia
atas apa yang mereka lakukan terhadap anak anaknya dan akan
selalu merasa tidak
sukabila melihat buah hati tercinta
mereka merasa khawatir atau pun
bersedih.
angkat Jempolnya... yang SAYANG bapak dan ibu :')

thank you mother, i love you .

Jumat, 04 Juli 2014

Rini Anak Gaul Jadi Anak Pesantren

Sekarang aku kelas sembilan, dikit-dikit ada ujian, baru selesai satu tumbuh seribu. Oh iya aku lupa namaku Rini, anak paling gaul di sekolah. Tapi gara-gara banyak ujian Hp ku disita sama orangtua ku, Tv juga gak boleh disentuh apalagi nyala. Untung aja laptopku nggak, jadi aku masih bisa facebookan sama temen-temen ku. Uh… nyebelin banget..!!. Aku cuma disuruh belajar dan belajar atau disuruh dengerin ceramah yang paling aku benci!!. Apalagi masa akan Maulid Nabi SAW kayak gini kayak setiap jam pasti ada.

Aku punya sahabat gaul juga di sekolah, kami selalu bersama. Meraka itu adalah Fita, Sinta dan Dinda. Hari ini aku datang ke sekolah dengan muka muram. Melihat tersebut sahabat ku penasaran dan kemudian mereka menghampiriku. “Eh, rin.. kenapa kamu? Kok kayaknya gak semangat banget hari ini..?” tanya Fita. “Iya nih… jadinya kan gak seru..!” sambung Dinda. “Ya… lagi gak mood aja!” jawab ku. Sinta berkata “Pasti kamu ada masalah ya kan rin..? jangan bohong deh… udah terlihat dari wajah-wajah kamu tau…!”. “Iya… memang aku ada masalah.. Handphone ku disita, trus aku cuma disuruh belajar dan belajar.. pokoknya nyuebelin banget..!” jawab ku. “Udah tenang saja nanti kita pergi shopping ok! Biar gak sedih lagi…” jelas Fita. “Kan aku di rumah sama orangtua ku gak boleh keluar..!” jawab ku. “Ih kalau gak ada kamu gak seru rin…!” Sahut sinta, “buuanget!, yuk masuk kelas…!” seru Dinda.

Pelajaran pun dimulai sekarang waktunya adalah fisika, pada saat itu juga guru fisika kami sifatnya lumayan garang. Kami satu kelas diadakan ulangan mendadak. Para murid semua protes karena belum sempat belajar. Tapi tetap saja ulangan dilaksanakan juga, soal mulai dibagikan oleh bu guru kami. Sahabat-sahabat ku bingung gak tau apa yang harus dijawab. “sst… sst.. Rini.. no. 1, 4, 7, 8, 9, 11, 15 apa?” tanya Fita. Aku menoleh dan menjawab “aku tak tahu..!”. “Uhh… soalnya sulit semua kita nyontek yuk..!” seru Dinda. “Ok!” kata Fita. Mereka pelan membuka buku tapi aku tidak, karena aku takut nanti ketauhan dan dihukum deh. Untung saja aku tadi malam belajar.

Tiba-tiba terdengar suara keras seperti petir keluar dari tangan pukulan bu guru di mejanya. Semuanya kaget dan diam seketika tanpa gerak sedikit pun. “Fita, Dinda, Sinta! maju ke depan!! sambil lembar jawabanyanya dibawa ke depan!!!” bu guru berteriak sambil meluapkan amarahnya. Tanpa kata mereka maju ke depan. Kemudian “Berikan lembar jawabannya!” kata buguru, mereka memberikan lembaran jawaban tersebut. Dengan wajah marah bu guru menyobek hingga berkeping keping kertas tersebut. “yah.. yah.. bu jangan dong bu..!, apa salah kami bu..?” tanya Sinta. “Iya bu apa salah kami bu..?” tanya dinda dan fita serempak. “Masih banyak tanya lagi! kalian tadi nyontek, apa pernah ibu nyuruh kalian nyontek pada saat ulangan!?” Tanya buguru. “Tidaaak….” mereka menjawab dengan pelan dan serempak. “Kalian saya hukum berdiri di depan kelas sampai ujian selesai!”, jelas bu guru.

Akhirnya mereka harus menerima hukuman tersebut. Semua mulai mengumpulkan lembar jawaban ke meja guru. “Sekarang kalian boleh kembali duduk!!!” suruh buguru pada sahabat-sahabat ku. “akhirnya… kita bebas!!!” mereka berkata serempak. Tiba-tiba ibu guru berkata “Anak–anak jawaban kalian sudah saya nilai dan nilai tertinggi dicapai oleh… Rini..!!!” aku kaget seakan tidak percaya. “hah!! Apa benar bu saya dapat nilai tertinggi?” tanya ku. “benar rini kalau tidak percaya lihat lah kemari” jelas bu guru. “Waaah… apa aku mimpi!” kataku dengan rasa senang dan rasa tidak percaya.

Tapi kesenangan ku berhenti begitu saja, ketika waktu istirahat tiba, sahabat-sahabat ku marah kepada ku. “Rin! Katanya kamu tadi, aku tanya tidak tahu kenapa kamu malah dapat nilai tertinggi”. Tanya Fita dengan meluapkan amarahnya. “Iya! Malah kami jadi dihukum, itu karena kamu”, sambung Dinda. “Tadi memang aku tidak tahu… cuma asal menjawab saja kok…!” jawab ku. “Alaaah… kamu pasti bohong sama kami!!” kata Sinta. “Beneran kok aku gak bohong…” jelas ku. “udah deh!! pokoknya kita End…!!” kata Fita cetus kepada ku. “Ingat itu..!!!”, sambung Dinda. Aku benar-benar menyesal dan hatiku sedih banget.
Sampai waktu pulang, aku berjalan ke gerbang dengan muka benar-benar sedih dan muram. Aku lihat mobil jemputanku sudah ada di depan gerbang. Langsung aku masuk ke mobil tersebut dengan keadaan diam tanpa kata sedikit pun. Sesampaiku di rumah, kemudian membuka pintu tiba-tiba aku melihat mama berbincang bincang dengan seorang anak seumuran ku yang duduk di sampingnya. Mama tiba-tiba berkata “Rini, kenalkan ini namanya Ani, ia akan menjadi teman mu, dari pada kamu temenan sama temen kamu yang belum mesti baiknya. Ia akan membantu mu dalam berbagai hal kesulitan”. “Iya mah..” jawab ku dengan perasaan terpaksa.

Kemudian aku menuju ke kamar aku. Ku membuka pintu dengan keras hingga semua orang yang ada di rumah terdengar dan kaget, aku lempar saja tas ku ke meja dengan kasar. Aku tak tahan mengeluarkan air mata dan akhirnya aku menangis tanpa henti dengan perasaan yang sunggu marah dan sedih. Aku menangis hingga beberapa waktu, tiba-tiba ku mendengar suara kaki berjalan mendekat kepada ku. aku melihat pelan–pelan dengan wajah ku yang sudah basah dengan air mata. Aku tetap saja menangis dan menghiraukanya. Ani tiba-tiba saja berkata dengan lembut sambil membelai diriku “Sudahlah jangan lah menagis terus… sayang kan bila nanti cantiknya hilang..!!”. Aku hanya terdiam saja. “Cerita donk sama aku, aku akan membantu kamu memecahkan masalah mu…” ia kembali berkata dengan lembut pada ku. “Memang diriku akhir ini aku sering mendapat masalah, gak Cuma satu aja masalahku, bahkan hingga beribu-ribu, aku gak kuat menerima semuanya.. aku mulai putus asa..!!” jelasku dengan agak merintih sedih. “Hey.. masalah itu jangan terlalu dipikirin buat saja masalah tersebut jadi happy, seru dan menyenangkan” jelasya. Aku penasaran dan bertanya kepadanya lagi “e… emangnya kamu pernah melakukan seperti itu, dan bagaimana caranya”. “Udah… itu nanti saja kita pikirin sekarang kamu Rini ganti baju lalu makan bersama..” kata Ani. “Terima kasih ya An..!” ucap ku sambil memeluk nya.

Sore hari nya aku belajar bersama dengan Ani, belajarnya seru banget gak bikin bete, Ani mengajariku serius tapi santai. Aku menjadi tau banyak hal dengan belajar, karena Ani pula aku jadi faham berbagai mata pelajaran. Seakan akan belajar jadi moment yang tak akan terlewatkan.
Malam pun telah tiba tepatnya jam tujuh malam, tiba-tiba terdengar suara orang baca Al-quran. Suara tersebut muncul dari kamar ani. Aku penasaran dan mendengar kanya di dekat pintu kamarnya. Suaranya sangat indah hingga aku terpesona. Dan tanpa aku sadari terdengar pintu terbuka dan Ani muncul di hadapanku. Aku langsung kaget melihat Ani dan jantung ku berdebar hebat. “Ada apa rin kok ada di sini..” tanya ani kepadaku. “E… e… aku tadi e.. denger suara kamu ngaji bagus banget, memanganya kamu bisa mengaji sejak kapan..?” jawab ku kepadanya dengan agak gagu. “Ya.. dari dulu sih..” jawab nya. “Kamu hebat yah… aku saja udah besar kayak gini masih belum lancar baca al quran nya…” ucap ku. “udah tenang saja aku mau kok bantu kamu kamu belajar baca al quran biar bisa lancar…”.

Setelah beberapa lama, akhirnya aku bisa membaca Al quran dengan lancar. Dulu saja aku benci dengan tulisan arab tapi sekarang jadi menyenangkan. “Terimakasih ya rin kamu tuh udah bantu aku buuanyak… banget!!” ucap ku kepada nya. “Ia sama sama kok… oh ya kamu harus ngutamakan ibadah-ibadah kamu yang seperti ini, jangan lupa solatnya juga, apalagi masa-masa Maulid Nabi kayak gini itu penting banget lo…” jelas nya secara rinci. “Ok dech…” sahut ku.. “Rini anak gaul gitu….” sambung nya… kami tertawa bahagia bersama.

Hari demi hari telah terlampaui aku mulai bisa melalui masalah ku, bahkan masalah ku, sebagian ku jadikan hal yang paling menyenang kan. Bahkan sahabat aku dulu terheran-heran dengan sikap ku sekarang yang mulai berubah. Tak terasa lagi Maulid Nabi sudah kurang tiga hari lagi. Di pagi harinya tiba-tiba mama ku memanggil ku dan Ani untuk ke ruang tamu yang di bawah. Kami datang di hadapanya, aku penasaran ada apa kok pagi-pagi waktu untuk siap-siap sekolah kok di panggil, “ada apa ma.. kok kami di panggil…?” tanya ku kepada mama. “Ini mama dapat undangan isinya ajakan untuk mengikuti lomba qiroah se-Kabupaten, jadi kalian berdua aku akan daftarin lomba ini, jadi kalian harus belajar qiroah dengan tekun” jelas mama. Aku kaget seraya berkata “tapi ma.. saya kan masih baru-baru ini bisa lancar bacanya, kenapa saya diikutkan..?, biar Ani saja yang ikut lomba tersebut..!”. “Jangan kawatir soal itu.. jika kamu berlatih dengan baik kalian pasti bisa”, jelas mama kepada ku. Aku hanya bisa menerima apa yang dikatakan oleh mama. Sebisa ku aku berlatih dengan semaksimal mungkin.

Ketika aku dan Ani sudah selesai berlatih baca al quran, ani mengajak ku mendengarkan musik. Dengan senang hati aku menerima pendapatnya. Tiba-tiba aku kayak mendengar aneh dari musik tersebut aku penasaran dan bertanya “Itu musik apa yang kau bunyikan.. kok aku belum pernah dengar..?” “Ini itu musik shalawatan, isinya salawat yang dilimpahkan kepada nabi kita.. penting juga lo solaawat untuk nabi mohammad SAW itu, karena kita bisa mendapat syafaat di yaumil kiyamah nanti…” jelasnya secara rinci. “Oh… begitu yah… jadinya asik donk kalau dibikin lagu..!” seru ku. “ok benar sekali…” kata Ani.
Maulid nabi tinggal keesokan harinya. Malam nya kami sekeluarga beserta Ani pergi ke sebuah pengajian peringatan Maulid Nabi Saw, sebenarnya aku gak begitu suka tapi ikuti saja orangtua ku.. mungkin ada benarnya juga. Ustadnya di pengajian itu kalo berbicara enak… banget didengar. Di situ aku diceramah tentang Tolong nenolong antar sesama, mataku hingga berkaca–kaca karena dulu aku sering bikin masalah sama temen, bukan nolongin malah nyusahin. Selain itu juga Ustadz tersebut menerangkan tentang doa. Aku jadi tahu pentingnya doa untuk kehidupan. Setelah pulang dari pengajian aku langsung ambil wudu dan berdoa agar aku bisa mengikuti lomba dengan lancar serta ujian nasional yang sukses.

Keesokan harinya telah tiba saatnya aku dan Ani mengikuti lomba Qiroah. Aku akan berangkat saja sudah deg-degan dan mulai agak tegang. Tapi lama kelamaan keteganganku hilang. Tak terasa kami sudah sampai di tempat lomba. Aku mencoba agar tetap tenang dalam mengikti lomba. Kami duduk di kursi peserta satu persatu namanya di panggil oleh juri. Sekarang adalah giliran Ani baca qiroah. Aku mulai deg-degan lagi, setelah Ani selesai, kemudian terdengar teriakan juri “Rini fitriyani!!” dengan hati berusaha untuk tenaang, aku mulai membacanya setelah beberapa waktu akhirnya qiroah ku selesai dengan persaan lega aku turun dari panggung. “Wah… rini kamu tadi bagus banget lo…” kata Ani. “ah.. enggak kok..!” jawab ku agak malu.

Setelah beberapa lama semua peserta sudah membaca. Akhirnya pembacaan juara pun akan segera diumum kan. Jantung ku mulai berdebar-debar. Waktunya pembacaan juara. “JUARA TIGA.. DIRAIH OLEH… MITA..!!” juara tiga sudah diumumkan. Aku semakin tegang. “JUARA DUA… DIRAIH OLEEEH… ANI…!!” juara dua sudah diumum kan, aku terkagum-kagum pada Ani. “DAN JUARA PERTAMA DIRAIH OLEEH… RINI…!!” aku hanya termenganga saja. Kemudian dengan perasaan senang aku naik ke panggung. Aku memperoleh trophy dan dorprize kecil, aku sangat tidak menyangka bisa juara dan bahkan bisa mengalahkan Ani.

Ketika perjalanan pulang aku berbincang-bincang dengan Ani di mobil. “Kamu hebat banget bisa juara satu Rini”, ucap Ani dengan dengan kagum. “Ah.. tidak juga ini berkat mu dan berkat maulid nabi…!!” jelas ku. “Sekarang Rini yang gaul iti udah jadi anak pesanten yah..” kata Ani. “Iya donk siapa dulu.. Rini..!!” jawabku semua tertawa bahagia.

Ini semua akan jadi momen yang tak kan pernah terlupakan, berkat Ani dan maulid Nabi aku jadi mengerti apa arti kehidupan dan sungguh-sungguh dalam mencapai sesuatu. Aku telah merubah sikapku ini menjadi yang lebih baik dari dulu. Aku sangat berharap nanti ujian aku lulus dan mendapat nilai yang memuaskan. Ingat jangan pernah putus asa kawan…!.


Cerpen Karangan: Hafiza Elma Fitriya

Ayahku Seorang Kyai

Usiaku masih sekitar 14 tahun, ketika aku pertama kali melihat ayahku marah besar. Bukan, ia bukan marah kepada kami, keluarganya. Tapi, ia mendamprat habis seorang tamu yang sedang berkunjung. Sebagai orang Batak, tentu saja hal-hal semacam itu dianggap biasa di tengah masyarakat kami yang bertemperamen keras. Namun tetap saja, orang-orang di sekitar kediaman kami berlomba-lomba melihat kejadian langka tersebut. Entah kenapa, kemarahan ayahku membuat mereka rela menunda berbagai aktivitas yang sedang dilakukan. Bahkan, astaga, aku sangat yakin jika saat itu aku juga melihat seorang bapak tergopoh-gopoh menutupi tubuhnya dengan handuk demi menyaksikan adegan tersebut secara live.

Aku tidak tahu pasti alasan yang membuat mereka bergegas meninggalkan makanan yang sedang disantap, televisi yang sedang ditonton, bahkan sabun yang baru saja disiapkan untuk mandi. Sungguh, itu bukan hiperbola. Itu semua adalah kenyataan karena aku ada disana ketika fenomena ‘langka’ tersebut terjadi. Dan aku berusaha menebak mengapa massa berbondong-bondong berkumpul demi melihat kemarahan ayahku. Semua kemungkinan coba kuanalisa dengan otakku yang masih ‘hijau’ ini. Sampai aku teringat jika penyebab dari kumpulan manusia ini mungkin saja berasal dari sosok ayahku yang lembut, jauh dari watak orang-orang pemarah. Hingga aku menyadari sebuah kenyataan lain, dan itu membuatku tertegun cukup lama ketika itu. Aku baru ingat kalau ayahku bukan orang biasa. Pantas saja begitu banyak manusia yang berusaha melihat kejadiaan ini. Ayahku seorang kyai!!!

Kejadian itu berlangsung saat semua masyarakat Indonesia seharusnya bersukacita menyambut hari kemerdekaan yang 2 minggu lagi akan datang. Hari yang seharusnya memiliki makna lebih bagi sosok ayahku. Karena ia turut memiliki andil dalam merebut kemerdekaan bangsa ini. Ya, ayahku dulunya adalah seorang pejuang kemerdekaan. Bahkan ia adalah seorang pemimpin pasukan khusus. Pasukannya terdiri atas santri pilihan dari pondok pesantren yang ayahku kelola ketika itu. Kenapa kusebut ‘santri pilihan’? Karena hanya santri yang benar-benar berkualitas sajalah yang diizinkan untuk bergabung ke dalam pasukan ini. Tidak hanya semangat juang dan ketahanan fisik saja yang menjadi syarat dari laskar ‘elit’ santri itu, tapi kualitas iman mereka selama berada di pondok pesantren dan kesiapan mereka dalam menyongsong bahaya maut juga menjadi tolak ukur utama dalam penyaringan pasukan yang dilakukan oleh ayahku sendiri pada saat itu.
 
Ia masih begitu muda dan gagah ketika memimpin orang-orang semacam itu untuk bergerilya melawan kelaliman penjajahan Jepang. Bersama mereka, ia berusaha mengusir kaum yang mengaku sebagai ‘saudara tua Indonesia’ itu dari bumi Sumatera Utara dengan senjata seadanya. Pada akhirnya, usaha itu bisa dikatakan berhasil berkat strategi yang matang dan kerjasama yang baik dengan satuan-satuan pejuang lainnya di berbagai wilayah Sumatera. Meskipun untuk itu, ayahku harus kehilangan seluruh santrinya. Bukan, mereka bukan dieksekusi oleh tentara Nippon. Tapi mereka terpaksa berlindung ke daerah lain karena pondok pesantren yang dikelola oleh ayahku dibumi hanguskan oleh pasukan Nippon ketika itu. Aku tidak tahu bagaimana perasaan ayahku ketika itu. Namun berdasar cerita yang kudapatkan dari paman-pamanku, aku tahu kalau ayahku merasa begitu sedih dengan hal tersebut. Ia merasa gagal melindungi santri-santri yang sudah dianggap anaknya sendiri padahal ketika itu ia memiliki anak buah cukup banyak.

Ketika membayangkan hal ini aku jadi teringat dengan salah seorang raja di Kerajaan Singosari yang masyhur itu. Ia mengirimkan ekspedisi pasukan ke wilayah Sumatera demi mewujudkan ambisinya untuk menyatukan Nusantara. Sayang, ia melupakan keamanan di pusat pemerintahannya di Jawa Timur sana sehingga dengan begitu mudah dapat ditaklukkan oleh kerajaan lain. Hei, apa gunanya memperoleh banyak kemenangan di berbagai tempat, tapi ternyata engkau sendiri tak sangup melindungi kediamanmu?
Latar belakang ayahku yang merupakan pejuang kemerdekaan itulah yang membuat tamu tadi datang berkunjung ke rumah kami untuk kesekian kalinya dalam beberapa tahun terakhir. Ya, tamu ayahku itu memang pernah beberapa kali bertamu ke tempat tinggal kami, meskipun untuk hal tersebut ia harus rela menempuh jarak yang lumayan jauh dari pusat kota Medan. Wajar saja, saat itu kami sekeluarga masih tinggal bersama di salah satu desa di pelosok Sumatera Utara. Ia selalu datang dengan tujuan yang sama. Yaitu menawarkan tunjangan tahunan yang disediakan oleh Kementerian Dalam Negeri bagi para veteran perang seperti ayahku. Dan jawaban ayahku dari satu pertemuan ke pertemuan berikutnya pun selalu sama pula, yaitu menolaknya dengan tegas.

Awalnya, kunjungan tamu tadi berjalan seperti biasa. Namun semuanya mulai berubah ketika tamu tadi mulai tak sabaran. Sepertinya ia kesal dengan sifat ayahku yang begitu keras kepala dalam hal ini. Bayangkan saja, berkali-kali ia datang kemari dengan menempuh perjalanan yang cukup melelahkan dan jawaban yang diperolehnya selalu saja sama, yaitu kata: TIDAK. Manusia mana yang tidak frustasi dengan hal semacam itu? Tentunya tamu tersebut bukan seseorang yang begitu sabar layaknya junjungan semesta alam ini kan?
Dan genap habis sudah amunisi argumen tamu tersebut. Ia tetap saja tak mampu mengubah pendirian ayahku itu, meski mulutnya sudah berbusa-busa menyampaikan tujuan dan manfaat dari program tunjangan ini. Hingga di tengah keputus asaannya ia mencoba mengeluarkan jurus pamungkasnya. Dan, astaga, inilah yang menjadi sebab kemarahan besar ayahku ketika itu.

Anda pasti tahu jika ayahku merupakan seorang kyai kan? Tapi tahukah Anda kenapa ia dipanggil begitu? Itu karena ia merupakan seorang direktur pondok pesantren yang ia rintis bersama sejumlah koleganya beberapa tahun yang lalu. Nah, tamu tersebut berusaha menyindir kondisi pesantren yang, kuakui, lumayan memprihatinkan dengan kondisi keluarga kami yang, lagi-lagi kuakui, hidup pas-pasan. Dari situ ia berusaha mempengaruhi ayahku jika tunjangan tersebut dapat digunakan untuk membantu biaya operasional pondok pesantren tiap tahunnya. Namun ia salah besar. Ayahku merasa begitu tersinggung dengan ucapan tamu itu tadi sehingga ia merasa perlu untuk mengusir tamu tersebut sesaat setelah meluapakan seluruh amarahnya. Entah seberapa hebat kemarahannya ketika itu, yang pasti setelah kejadian tersebut aku tidak pernah melihat tamu itu berkunjung kembali ke rumah ini. Sungguh, itu adalah kemarahan terhebat yang pernah kulihat dari sosok ayahku hingga ia wafat sewindu yang lalu.

Meskipun kejadian itu telah berlalu hingga 21 tahun, tetap saja aku masih belum bisa menyimpulkan dengan pasti alasan mengapa ayahku menolak program tunjangan itu. Karena tentu saja, aku tidak pernah berusaha mengungkit-ungkit kejadian tersebut. Tapi setidaknya biarkan aku menyampaikan analisaku sejenak, karena bagaimanapun juga Sang Khalik telah memberiku waktu yang amat lama untuk memikirkannya sekaligus mengambil pelajaran dari peristiwa itu.

Mengapa ayahku menolak program yang diprakasai oleh Kementerin Dalam Negeri itu? Pasti alasannya bukan karena keberatan dengan biaya registrasi program tersebut yang mencapai setengah juta lebih. Aku yakin itu. Mungkin alasan mengapa ayahku menolaknya ketika itu karena beliau merasa tidak pantas menerima tunjangan tersebut. Dari percakapan yang sering aku curi dengar ketika mereka mengobrol dalam beberapa pertemuan, aku paham jika ayahku berjuang melawan Jepang bukan untuk karena ia ingin dikenal sebagai pahlawan kemerdekaan. Akan tetapi ia memimpin gerilya melawan Jepang karena ia tidak tahan melihat penderitaan rakyat kecil akibat penindasan dari tentara Jepang. Ia muak dengan berbagai kesewenang-wenangan mereka. Karena itulah ayahku memilih untuk mengangkat senjata melawan mereka. Dan yang menjadi harapan ayahku ketika itu hanyalah keridhoan dari Sang Khalik dan ganjaran dari sisi-Nya. Bahkan menurutku, hal ini pula yang menjadi harapan ayahku ketika jatuh bangun merintis pondok pesantren bersama koleganya dulu.

Dan satu hal yang membuatku tambah percaya dengan analisaku ini ialah headline yang kubaca di salah satu media cetak nasional pagi ini. Bahkan, berita heboh ini turut membantuku dalam membuat hipotesaku tadi. Tahukah Anda berita apa yang kumaksud? Tentu saja tentang korupsi. Tapi yang membuat berita ini begitu spesial di mataku ialah wajah seseorang yang diekspos dengan begitu jelas di halaman muka surat kabar tersebut. Disitu ia disebutkan sebagai pelaku utama dalam kasus korupsi yang terjadi di tubuh Kementerian Dalam Negeri. Hebatnya lagi kasus tersebut diduga melibatkan beberapa anggota DPR RI dan petinggi Kementerian Dalam Negeri. Tahukan Anda siapa yang aku maksud? Ya, ia adalah tamu ayahku 21 tahun yang lalu. Ia diduga merugikan negara sebesar 20,1 triliun melalui praktek korupsi di beberapa proyek Kementerian. Entahlah, aku tidak tahu pasti kasus yang menjeratnya. Yang kutahu, uang registrasi pengajuan tunjangan veteran itu pun termasuk hasil rekayasanya. Aku hanya dapat mengelus dada sambil bersyukur ayahku bukan termasuk orang-orang yang terjerat dengan tipu dayanya. Bayangkan, berapa keuntungan yang ia peroleh dari biaya registrasi sebesar setengah juta lebih selama puluhan tahun itu? Aku tidak tahu pasti, tapi tentu Allah Maha Tahu atas segalanya, kan?

Anda boleh percaya atau tidak dengan berita tersebut. Tapi kalau Anda ingin membuktikannya, kutantang diri Anda untuk datang kemari, ke sebuah pondok yang kini kujalankan bersama adik laki-lakiku. Tapi kuingatkan, jangan bersusah payah mencariku di Sumatera Utara. Karena tentu saja, kami sekeluarga telah pindah ke Jawa beberapa tahun setelah peristiwa pemberontakan PKI. Baiklah, kuberi Anda sedikit bantuan. Carilah aku di derah Jawa Tengah, dan bawa selalu baju hangat ketika Anda berkunjung kesini!


Cerpen Karangan: Chairul Sinaga
Facebook: Anwar Sinaga (FB)
Nama Pena: Chairul Sinaga
Pelajar di Pondok Tahfizhul Qur’an Isy Karima, Karanganyar
Jln. Solo-Tawangmangu km.34
TTL: 22 Nopember 1996