Sekarang aku kelas sembilan, dikit-dikit ada ujian, baru
selesai satu tumbuh seribu. Oh iya aku lupa namaku Rini, anak paling
gaul di sekolah. Tapi gara-gara banyak ujian Hp ku disita sama orangtua
ku, Tv juga gak boleh disentuh apalagi nyala. Untung aja laptopku nggak,
jadi aku masih bisa facebookan sama temen-temen ku. Uh… nyebelin
banget..!!. Aku cuma disuruh belajar dan belajar atau disuruh dengerin
ceramah yang paling aku benci!!. Apalagi masa akan Maulid Nabi SAW kayak
gini kayak setiap jam pasti ada.
Aku punya sahabat gaul juga di sekolah, kami selalu bersama. Meraka
itu adalah Fita, Sinta dan Dinda. Hari ini aku datang ke sekolah dengan
muka muram. Melihat tersebut sahabat ku penasaran dan kemudian mereka
menghampiriku. “Eh, rin.. kenapa kamu? Kok kayaknya gak semangat banget
hari ini..?” tanya Fita. “Iya nih… jadinya kan gak seru..!” sambung
Dinda. “Ya… lagi gak mood aja!” jawab ku. Sinta berkata “Pasti kamu ada
masalah ya kan rin..? jangan bohong deh… udah terlihat dari wajah-wajah
kamu tau…!”. “Iya… memang aku ada masalah.. Handphone ku disita, trus
aku cuma disuruh belajar dan belajar.. pokoknya nyuebelin banget..!”
jawab ku. “Udah tenang saja nanti kita pergi shopping ok! Biar gak sedih
lagi…” jelas Fita. “Kan aku di rumah sama orangtua ku gak boleh
keluar..!” jawab ku. “Ih kalau gak ada kamu gak seru rin…!” Sahut sinta,
“buuanget!, yuk masuk kelas…!” seru Dinda.
Pelajaran pun dimulai sekarang waktunya adalah fisika, pada saat itu
juga guru fisika kami sifatnya lumayan garang. Kami satu kelas diadakan
ulangan mendadak. Para murid semua protes karena belum sempat belajar.
Tapi tetap saja ulangan dilaksanakan juga, soal mulai dibagikan oleh bu
guru kami. Sahabat-sahabat ku bingung gak tau apa yang harus dijawab.
“sst… sst.. Rini.. no. 1, 4, 7, 8, 9, 11, 15 apa?” tanya Fita. Aku
menoleh dan menjawab “aku tak tahu..!”. “Uhh… soalnya sulit semua kita
nyontek yuk..!” seru Dinda. “Ok!” kata Fita. Mereka pelan membuka buku
tapi aku tidak, karena aku takut nanti ketauhan dan dihukum deh. Untung
saja aku tadi malam belajar.
Tiba-tiba terdengar suara keras seperti petir keluar dari tangan
pukulan bu guru di mejanya. Semuanya kaget dan diam seketika tanpa gerak
sedikit pun. “Fita, Dinda, Sinta! maju ke depan!! sambil lembar
jawabanyanya dibawa ke depan!!!” bu guru berteriak sambil meluapkan
amarahnya. Tanpa kata mereka maju ke depan. Kemudian “Berikan lembar
jawabannya!” kata buguru, mereka memberikan lembaran jawaban tersebut.
Dengan wajah marah bu guru menyobek hingga berkeping keping kertas
tersebut. “yah.. yah.. bu jangan dong bu..!, apa salah kami bu..?” tanya
Sinta. “Iya bu apa salah kami bu..?” tanya dinda dan fita serempak.
“Masih banyak tanya lagi! kalian tadi nyontek, apa pernah ibu nyuruh
kalian nyontek pada saat ulangan!?” Tanya buguru. “Tidaaak….” mereka
menjawab dengan pelan dan serempak. “Kalian saya hukum berdiri di depan
kelas sampai ujian selesai!”, jelas bu guru.
Akhirnya mereka harus menerima hukuman tersebut. Semua mulai
mengumpulkan lembar jawaban ke meja guru. “Sekarang kalian boleh kembali
duduk!!!” suruh buguru pada sahabat-sahabat ku. “akhirnya… kita
bebas!!!” mereka berkata serempak. Tiba-tiba ibu guru berkata “Anak–anak
jawaban kalian sudah saya nilai dan nilai tertinggi dicapai oleh…
Rini..!!!” aku kaget seakan tidak percaya. “hah!! Apa benar bu saya
dapat nilai tertinggi?” tanya ku. “benar rini kalau tidak percaya lihat
lah kemari” jelas bu guru. “Waaah… apa aku mimpi!” kataku dengan rasa
senang dan rasa tidak percaya.
Tapi kesenangan ku berhenti begitu saja, ketika waktu istirahat tiba,
sahabat-sahabat ku marah kepada ku. “Rin! Katanya kamu tadi, aku tanya
tidak tahu kenapa kamu malah dapat nilai tertinggi”. Tanya Fita dengan
meluapkan amarahnya. “Iya! Malah kami jadi dihukum, itu karena kamu”,
sambung Dinda. “Tadi memang aku tidak tahu… cuma asal menjawab saja
kok…!” jawab ku. “Alaaah… kamu pasti bohong sama kami!!” kata Sinta.
“Beneran kok aku gak bohong…” jelas ku. “udah deh!! pokoknya kita
End…!!” kata Fita cetus kepada ku. “Ingat itu..!!!”, sambung Dinda. Aku
benar-benar menyesal dan hatiku sedih banget.
Sampai waktu pulang, aku berjalan ke gerbang dengan muka benar-benar
sedih dan muram. Aku lihat mobil jemputanku sudah ada di depan gerbang.
Langsung aku masuk ke mobil tersebut dengan keadaan diam tanpa kata
sedikit pun. Sesampaiku di rumah, kemudian membuka pintu tiba-tiba aku
melihat mama berbincang bincang dengan seorang anak seumuran ku yang
duduk di sampingnya. Mama tiba-tiba berkata “Rini, kenalkan ini namanya
Ani, ia akan menjadi teman mu, dari pada kamu temenan sama temen kamu
yang belum mesti baiknya. Ia akan membantu mu dalam berbagai hal
kesulitan”. “Iya mah..” jawab ku dengan perasaan terpaksa.
Kemudian aku menuju ke kamar aku. Ku membuka pintu dengan keras
hingga semua orang yang ada di rumah terdengar dan kaget, aku lempar
saja tas ku ke meja dengan kasar. Aku tak tahan mengeluarkan air mata
dan akhirnya aku menangis tanpa henti dengan perasaan yang sunggu marah
dan sedih. Aku menangis hingga beberapa waktu, tiba-tiba ku mendengar
suara kaki berjalan mendekat kepada ku. aku melihat pelan–pelan dengan
wajah ku yang sudah basah dengan air mata. Aku tetap saja menangis dan
menghiraukanya. Ani tiba-tiba saja berkata dengan lembut sambil membelai
diriku “Sudahlah jangan lah menagis terus… sayang kan bila nanti
cantiknya hilang..!!”. Aku hanya terdiam saja. “Cerita donk sama aku,
aku akan membantu kamu memecahkan masalah mu…” ia kembali berkata dengan
lembut pada ku. “Memang diriku akhir ini aku sering mendapat masalah,
gak Cuma satu aja masalahku, bahkan hingga beribu-ribu, aku gak kuat
menerima semuanya.. aku mulai putus asa..!!” jelasku dengan agak
merintih sedih. “Hey.. masalah itu jangan terlalu dipikirin buat saja
masalah tersebut jadi happy, seru dan menyenangkan” jelasya. Aku
penasaran dan bertanya kepadanya lagi “e… emangnya kamu pernah melakukan
seperti itu, dan bagaimana caranya”. “Udah… itu nanti saja kita pikirin
sekarang kamu Rini ganti baju lalu makan bersama..” kata Ani. “Terima
kasih ya An..!” ucap ku sambil memeluk nya.
Sore hari nya aku belajar bersama dengan Ani, belajarnya seru banget
gak bikin bete, Ani mengajariku serius tapi santai. Aku menjadi tau
banyak hal dengan belajar, karena Ani pula aku jadi faham berbagai mata
pelajaran. Seakan akan belajar jadi moment yang tak akan terlewatkan.
Malam pun telah tiba tepatnya jam tujuh malam, tiba-tiba terdengar
suara orang baca Al-quran. Suara tersebut muncul dari kamar ani. Aku
penasaran dan mendengar kanya di dekat pintu kamarnya. Suaranya sangat
indah hingga aku terpesona. Dan tanpa aku sadari terdengar pintu terbuka
dan Ani muncul di hadapanku. Aku langsung kaget melihat Ani dan jantung
ku berdebar hebat. “Ada apa rin kok ada di sini..” tanya ani kepadaku.
“E… e… aku tadi e.. denger suara kamu ngaji bagus banget, memanganya
kamu bisa mengaji sejak kapan..?” jawab ku kepadanya dengan agak gagu.
“Ya.. dari dulu sih..” jawab nya. “Kamu hebat yah… aku saja udah besar
kayak gini masih belum lancar baca al quran nya…” ucap ku. “udah tenang
saja aku mau kok bantu kamu kamu belajar baca al quran biar bisa
lancar…”.
Setelah beberapa lama, akhirnya aku bisa membaca Al quran dengan
lancar. Dulu saja aku benci dengan tulisan arab tapi sekarang jadi
menyenangkan. “Terimakasih ya rin kamu tuh udah bantu aku buuanyak…
banget!!” ucap ku kepada nya. “Ia sama sama kok… oh ya kamu harus
ngutamakan ibadah-ibadah kamu yang seperti ini, jangan lupa solatnya
juga, apalagi masa-masa Maulid Nabi kayak gini itu penting banget lo…”
jelas nya secara rinci. “Ok dech…” sahut ku.. “Rini anak gaul gitu….”
sambung nya… kami tertawa bahagia bersama.
Hari demi hari telah terlampaui aku mulai bisa melalui masalah ku,
bahkan masalah ku, sebagian ku jadikan hal yang paling menyenang kan.
Bahkan sahabat aku dulu terheran-heran dengan sikap ku sekarang yang
mulai berubah. Tak terasa lagi Maulid Nabi sudah kurang tiga hari lagi.
Di pagi harinya tiba-tiba mama ku memanggil ku dan Ani untuk ke ruang
tamu yang di bawah. Kami datang di hadapanya, aku penasaran ada apa kok
pagi-pagi waktu untuk siap-siap sekolah kok di panggil, “ada apa ma..
kok kami di panggil…?” tanya ku kepada mama. “Ini mama dapat undangan
isinya ajakan untuk mengikuti lomba qiroah se-Kabupaten, jadi kalian
berdua aku akan daftarin lomba ini, jadi kalian harus belajar qiroah
dengan tekun” jelas mama. Aku kaget seraya berkata “tapi ma.. saya kan
masih baru-baru ini bisa lancar bacanya, kenapa saya diikutkan..?, biar
Ani saja yang ikut lomba tersebut..!”. “Jangan kawatir soal itu.. jika
kamu berlatih dengan baik kalian pasti bisa”, jelas mama kepada ku. Aku
hanya bisa menerima apa yang dikatakan oleh mama. Sebisa ku aku berlatih
dengan semaksimal mungkin.
Ketika aku dan Ani sudah selesai berlatih baca al quran, ani mengajak
ku mendengarkan musik. Dengan senang hati aku menerima pendapatnya.
Tiba-tiba aku kayak mendengar aneh dari musik tersebut aku penasaran dan
bertanya “Itu musik apa yang kau bunyikan.. kok aku belum pernah
dengar..?” “Ini itu musik shalawatan, isinya salawat yang dilimpahkan
kepada nabi kita.. penting juga lo solaawat untuk nabi mohammad SAW itu,
karena kita bisa mendapat syafaat di yaumil kiyamah nanti…” jelasnya
secara rinci. “Oh… begitu yah… jadinya asik donk kalau dibikin lagu..!”
seru ku. “ok benar sekali…” kata Ani.
Maulid nabi tinggal keesokan harinya. Malam nya kami sekeluarga
beserta Ani pergi ke sebuah pengajian peringatan Maulid Nabi Saw,
sebenarnya aku gak begitu suka tapi ikuti saja orangtua ku.. mungkin ada
benarnya juga. Ustadnya di pengajian itu kalo berbicara enak… banget
didengar. Di situ aku diceramah tentang Tolong nenolong antar sesama,
mataku hingga berkaca–kaca karena dulu aku sering bikin masalah sama
temen, bukan nolongin malah nyusahin. Selain itu juga Ustadz tersebut
menerangkan tentang doa. Aku jadi tahu pentingnya doa untuk kehidupan.
Setelah pulang dari pengajian aku langsung ambil wudu dan berdoa agar
aku bisa mengikuti lomba dengan lancar serta ujian nasional yang sukses.
Keesokan harinya telah tiba saatnya aku dan Ani mengikuti lomba
Qiroah. Aku akan berangkat saja sudah deg-degan dan mulai agak tegang.
Tapi lama kelamaan keteganganku hilang. Tak terasa kami sudah sampai di
tempat lomba. Aku mencoba agar tetap tenang dalam mengikti lomba. Kami
duduk di kursi peserta satu persatu namanya di panggil oleh juri.
Sekarang adalah giliran Ani baca qiroah. Aku mulai deg-degan lagi,
setelah Ani selesai, kemudian terdengar teriakan juri “Rini fitriyani!!”
dengan hati berusaha untuk tenaang, aku mulai membacanya setelah
beberapa waktu akhirnya qiroah ku selesai dengan persaan lega aku turun
dari panggung. “Wah… rini kamu tadi bagus banget lo…” kata Ani. “ah..
enggak kok..!” jawab ku agak malu.
Setelah beberapa lama semua peserta sudah membaca. Akhirnya pembacaan
juara pun akan segera diumum kan. Jantung ku mulai berdebar-debar.
Waktunya pembacaan juara. “JUARA TIGA.. DIRAIH OLEH… MITA..!!” juara
tiga sudah diumumkan. Aku semakin tegang. “JUARA DUA… DIRAIH OLEEEH…
ANI…!!” juara dua sudah diumum kan, aku terkagum-kagum pada Ani. “DAN
JUARA PERTAMA DIRAIH OLEEH… RINI…!!” aku hanya termenganga saja.
Kemudian dengan perasaan senang aku naik ke panggung. Aku memperoleh
trophy dan dorprize kecil, aku sangat tidak menyangka bisa juara dan
bahkan bisa mengalahkan Ani.
Ketika perjalanan pulang aku berbincang-bincang dengan Ani di mobil.
“Kamu hebat banget bisa juara satu Rini”, ucap Ani dengan dengan kagum.
“Ah.. tidak juga ini berkat mu dan berkat maulid nabi…!!” jelas ku.
“Sekarang Rini yang gaul iti udah jadi anak pesanten yah..” kata Ani.
“Iya donk siapa dulu.. Rini..!!” jawabku semua tertawa bahagia.
Ini semua akan jadi momen yang tak kan pernah terlupakan, berkat Ani
dan maulid Nabi aku jadi mengerti apa arti kehidupan dan sungguh-sungguh
dalam mencapai sesuatu. Aku telah merubah sikapku ini menjadi yang
lebih baik dari dulu. Aku sangat berharap nanti ujian aku lulus dan
mendapat nilai yang memuaskan. Ingat jangan pernah putus asa kawan…!.
Cerpen Karangan: Hafiza Elma Fitriya